Toxoplasmosis : Waspada bagi penggemar Kucing

14/05/2009 by: ajengkol

Toxoplasmosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh sporozoa Toxoplasma gondii, yaitu suatu parasit intraselluler yang banyak terinfeksi pada manusia dan hewan peliharaan. Penderita toxoplasmosis sering tidak memperlihatkan suatu gejala klinis yang jelas sehingga dalam menentukan diagnosis penyakit toxoplasmosis sering terabaikan. Penyakit toxoplasmosis mengenai wanita hamil trismester ketiga dapat mengakibatkan hidrochephalus, khorioretinitis, tuli atau epilepsi.

Toxoplasma gondii terdapat dalam 3 bentuk yaitu bentuk takizoit, kista (bradizoit) dan ookista. Ookista mempunyai hospes definitive yaitu kucing yang apabila tanpa sengaja tertelan oleh manusia maka akan berubah menjadi bentuk takizoit. Ookista yang berukuran 10-12 um. Ookista terbentuk di sel mukosa usus kucing dan dikeluarkan bersamaan dengan feces kucing. Dalam epitel usus kucing berlangsung siklus aseksual atau schizogoni dan siklus atau gametogeni dan sporogoni. Yang menghasilkan ookista dan dikeluarkan bersama feces kucing. Kucing yang mengandung Toxoplasma gondii dalam sekali exkresi akan mengeluarkan jutaan ookista

Bila ookista ini tertelan oleh hospes perantara seperti manusia, sapi, kambing atau kucing maka pada berbagai jaringan hospes perantara akan dibentuk kelompok-kelompok takizoit yang membelah secara aktif. Pada hospes perantara tidak dibentuk stadium seksual tetapi dibentuk stadium istirahat yaitu kista (pseudokista). Bila kucing makan tikus yang mengandung kista maka terbentuk kembali stadium seksual di dalam usus halus kucing tersebut. Takizoit berbentuk oval dengan ukuran kira kira 3–7 um, dapat menginvasis semua sel mamalia yang memiliki inti sel. Bila infeksi menjadi kronis takizoit dalam jaringan akan membelah secara membentuk pseudokista yang membelah secara lambat dikenal dengan bradizoit.
Patogenesis
Toksoplasmosis pada manusia didapat dari masuknya jaringan kista pada daging yang terinfeksi atau ookista pada makanan yang tercemar kotoran kucing. Toxoplasma gondii dapat menyebar baik secara lokal ke nodus limfe mesentrik maupun ke organ-organ yang cukup jauh dengan menyerang kelenjar-kelenjar limfe dan darah. Gambaran klinis akan tampak setelah beberapa waktu dari rusaknya jaringan dari beberapa organ yang terinfeksi, khususnya yang vital dan penting seperti mata, jantung, dan kelenjar adrenal. Nekrosis pada jaringan biasanya disebabkan oleh multiplikasi intraselular dari takizoit. Toksoplasmosis oportunistik pada pasien AIDS biasanya terjadi karena reaktivasi dari infeksi kronik. Lesi predominan dari toksoplasmosis ensefalitis pada pasien-pasien ini adalah nekrosis yang terkadang menghasilkan abses multiganda.
Infeksi Toksoplasma Kongenital
Secara umum bahwa transmisi toksoplasmosis kongenital muncul hanya ketika infeksi Toxoplasma gondii didapat selama masa gestasi. Ada korelasi positif yang sangat bermakna antara isolasi toksoplasma dari jaringan plasenta dan infeksi pada neonatus. Sebagai suatu standar, isolasi positif menandakan adanya infeksi dan isolasi negatif menandakan tidak adanya infeksi pada neonatus. Korelasi ini merupakan hasil penelitian dari otopsi neonatus dengan toksoplasmosis kongenital dan mengindikasikan bahwa infeksi tersebut didapat oleh fetus melalui uterus via pembuluh darah. Hal ini menandakan bahwa plasenta adalah suatu organ yang sangat penting dalam menghubungkan infeksi maternal dan fetus dimana organisme tersebut mencapai plasenta selama periode parasitemia pada ibu yang terinfeksi.

Infeksi kongenital bisa subklinis (jika titer positif, tetapi asimtomatis). Bisa juga infeksi toksoplasmosis kongenital ringan (jika bayi tampaknya normal dan berkembang secara normal juga pada penelitian selanjutnya tidak dijumpai adanya retardasi mental maupun kerusakan neurologik, akan tetapi pada pemeriksaan selanjutnya dijumpai adanya luka parut pada retina/pemeriksaan pada fundus). Dan yang paling parah infeksi toksoplasmosis kongenital berat, tetapi masih lahir (jika didapatkan korioretinitis dan kalsifikasi intrakranial pada bayi) atau meninggal segera setelah dilahirkan. Risiko infeksi toksoplasma terhadap fetus sangat berhubungan dengan waktu/kapan infeksi maternalnya muncul. Jika infeksi toksoplasma terjadi pada bulan-bulan terakhir dari kehamilan, umumnya parasit tersebut akan ditularkan ke fetus, tetapi infeksi yang terjadi umumnya subklinis pada saat kelahiran. Jika ibu hamil terjangkit lebih awal, pada bulan ketiga kehamilan maka transmisi ke fetus umumnya lebih jarang akan tetapi akibat yang ditimbulkan akan sangat fatal.

Untuk menghindarkan hal tersebut diatas seorang ibu hamil sebaiknya menjauhkan diri dari kucing sebagai hospes definitifnya atau makan daging yang kurang matang. Selain itu selama masa kehamilan ibu harus dipantau serologi sehingga kalau terjadi infeksi primer diketahui secara dini.

Incoming search terms for the article:

Sharing itu berguna:
  • Print
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Blogplay
  • email
  • LinkedIn
  • PDF
  • Ping.fm
  • Posterous
  • RSS
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Tumblr
Post this to Twitter
Filed under: Konsultasi
Tags: , ,

23 Comments

(Required)
(Required, will not be published)