Perjalanan rentang waktu tanpa terasa meninggalkan tapak – tapak langkah yang tidak mungkin kita jajaki lagi. Rentang waktu jualah yang selalu menemani hari – hari kita meski harus selalu berjauhan. Dulu aku begitu yakin bahwa LDR (Long Distance Relationship) itu hanyalah soal kepekaan jarak dan waktu. Bahkan aku sangat menentang ketika beberapa teman mengatakan nggak akan bertahan lama paling-paling 4 bulan. Suatu angka yang lumayan mengejutkan, sekaligus suatu tantangan untuk memahami bahwa dibalik itu semua pasti ada perjuangan yang luar biasa. Pasang surut sebuah hubungan jarak jauh ternyata memberi warna yang indah melebihi gradasi pelangi. Terpuruk dalam kelam kerinduan, berbunga bunga manakala bisa bercengkerama lewat sms atau telpon, mengharu biru saat pertemuan indah itu hadir.
Menatap wajah lelahmu mengiris lara dilubukku, maafkan aku yang selalu menuntut berlebih atau kadangkala tidak mengerti kondisi kita. Tangisku, ngambekku semua karena begitu besar kerinduan yang menumpuk, kilasan cemburu yang kadang hadir tanpa diundang. Memahami dan mengerti akan jarak yang memisahkan kita, akan kesibukan dan tanggung jawab kita masing-masing. Introspeksi Diri untuk memahami langkah perjalanan kita menumbuhkan penopang yang mampu membuatku bertahan, Introspeksi diri manakala lelah itu hadir menumbuhkan rasa bahwa rindu kita itu indah. Engkau selalu hadir dalam resahku engkau selalu hadir dalam gundah bahkan beteku, namun engkau pun selalu hadir dalam tutur bijakmu memberikan pengertian akan kesetiaan yang sudah kita ikat berdua.
Kini aku mengerti akan ucapmu bahwa Long Distance Relationship itu indah kalau kita bisa merajut kerinduan dan kesetiaan dalan suatu ikatan yang kokoh. Kekuatan yang kau berikan membuat aku mampu tersenyum dalam gelisahku. Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan. Semua tak kan mengubahku karena hanya kau yang ada di relungku. Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta, Kau bukan hanya sekedar indah. Kau tak akan terganti
Glenn Fredly – Sekali Ini Saja…
tuhan bila masih ku diberi kesempatan
ijinkan aku untuk mencintanya
namun bila waktuku telah habis dengannya
biar cinta hidup sekali ini saja
tak sanggup bila harus jujur
hidup tanpa hembusan nafasnya


