aksi simpatik bunderan HI
Kurikulum Pendidikan dianggap hanya menekankan pada peningkatan kemampuan intelektual semata sehingga melahirkan masyarakat intelektual global yang memahami berbagai disiplin ilmu dan teori yang berjurang jarak dari realitas persoalan. Salah satu akibat yang ditimbulkannya adalah tersingkirnya rasa empati dan tidak juga merdekanya cara berpikir mereka dari penjajahan pada dirinya sendiri. Perubahan Kurikulum Berbasis Kompetensi menempatkan mata aja empati sebagai salah satu prioritas pendidikan.
Menumbuhkan rasa empati kepada seorang teman memang dibutuhkan kekuatan yang lebih hal ini tentu saja berbeda dengan empati yang muncul apabila keluarga sendiri yang mengalaminya. Empati memang akan peka apabila kota sering melatihnya dengan melihat banyak kejadian ketimpangan atau ketidakadilan ada didepan mata kita. Begitu juga apabila berbicara tentang bagaimana “bersikap adil” dan keadilan itu tidak mudah, apalagi tentang bagaimana kita mempraktekkan untuk “bersikap adil” Oleh karena masalah “keadilan” ini bukan mengenai masalah sosial atau hukum saja, tetapi ini sudah sangat menyangkut masalah tanggung jawab moral. Milik siapa sebenarnya keadilan itu ?
surat untuk SBY
Kasus mbak Arga Tirta Kirana setelah sekian lama bisa dibayangkan betapa melelahkannya. Kini tinggal menunggu hitungan hari untuk sampai kepada vonis hakim yaitu Kamis 24 April 2011. Alanda Kariza, putri Arga Tirta Kirana memimpin langsung ‘aksi simpati help Arga’ yang menuntut agar ibunya dibebaskan jelang putusan Majelis Hakim. Sebagai perjuangan Alanda aksinya di Bundaran HI kemarin Senin 21 Maret 2011 dengan membacakan surat terbuka kepada Presiden Susilo Bambang Yudoyono. “Bagaimana mungkin seorang karyawan yang sehari-hari berupaya melakukan pekerjaannya sesuai aturan, tiba-tiba disentak oleh bobolnya bank dimana ibu bekerja, namun tuntutan terberat tanpa diduga dijatuhkan kepadanya,” kata Alanda. Segala cara sudah diupayakan untuk meyakinkan bahwa Arga Tirta Kirana tidak terlibat dalam pencairan kredit kepada debitur yang merugikan Bank Century sebesar Rp 360 miliar. Setelah menjalani rangkaian proses persidangan mulai dari pemeriksaan saksi hingga pembacaan Duplik telah memberikan dampak yang penuh tekanan bagi keluarganya tutur Alanda.
Pertanyaannya sekarang bagaimana memperjuangkan keadilan itu sendiri ? Apakah seorang yang mencari keadilan tidak boleh lelah ? dan kadangkala menjadi pasrah pada keadaan dan hukum yang memang masih belum bisa ditegakkan secara benar. Dengan teknologi social media Alanda Kariza berjuang untuk mendapatkan keadilan bagi Arga Tirta Kirana ibundanya. Seberapa perduli dan empati kita terhadap kasus ini dan masih banyak kasus kasus lain yang belum terselesaikan. Keadilan milik siapa sesungguhnya ?
feat Arga
feat Tika Bisono
Apakah itu berarti, kami – pemuda Indonesia – yang tidak memiliki uang dan kekuasaan, akan memiliki nasib yang sama? Bahwa keberadaan kami juga akan tergilas oleh hukum yang berpihak pada pihak yang membayar lebih, atau punya kekuasaan lebih tinggi? Apakah itu berarti, kami yang berkarya akan terusir dari negara ini apabila kami menginginkan Indonesia yang lebih baik dari hari ini? “Kita hendak mendirikan suatu negara ‘semua buat semua’. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi ‘semua buat semua’,” ujar Bung Karno dalam Pidato BPUPKI 1 Juni 1945. (cuplikan Surat Alanda)


