Selamat Ulang Tahun Jakarta 482

14/06/2009 by: ajengkol

Mojo merupakan kawasan pabrik gula di daerah Sragen dimana aku menghabiskan masa kecilku dari Taman Kanak hingga SMP sebelum hijrah ke Solo. Memandangi hamparan sawah dimana burung burung nakal itu mencuri padi, mereka tidak takut sedikitpun dengan memedi sawah. Bahkan sehabis mencuri padi burung nakal itu mengunyahnya sambil hinggap di kepala sang memedi sawah.

Tasikmadu dan Colomadu merupakan tempat kenangan yang tidak akan pernah terlupakan dan Solo adalah labuhan hatiku dimana makan Bakso Remaja, Timlo bu Sastro, Waroeng Steak, Bubur Gudeg Bu Mary, Nasi Liwet Nonongan semua itu tersipan rapat dalam ingatan. Kota Metropolitan Jakarta, sepuluh tahun lebih aku mengembara di belantaranya. Sepulang Kopdar di Plangi (Plasa Semanggi) aku duduk memandangi gedung gedung menjulang tinggi, lalu lintas yang padat bahkan saking macetnya menunggu taksi datang lebih dari satu jam. Kupandangi bus lalu lalang yang penuh berdesakan berjubelan, dalam hati aku pengen seperti mereka bisa bertahan karena memang tuntutan ibukota.

Dalam kegalauan jiwa hatiku bertanya sudahkah diri ini menjadi bagian warga ibukota ? Sedangkan berlarian mengejar bis kota saja aku tidak sanggup apalagi harus berdesakan didalamnya. Atau ketika memasuki Mall Mall besar melihat penampilan warganya dengan ‘tanktop’ melihat perempuan yang SubhanaAllah diberi oleh Allah paras mereka cantik tapi sungguh sayang pakaian mereka minim karena kainnya beli salah meterannya. Miris hati ini manakala banyak kejadian yang jauh dari nurani, sepuluh tahun lebih ternyata belum juga menjadikan aku sebagai warga Jakarta, Ikhlas karena jiwaku belum bisa.

Ternyata kuncinya sederhana yaitu Ikhlas.  Menghadapi kejamnya ibutiri masih mampu dihadang ketimbang kejamnya ibukota, sebuah pepatah mengatakan demikian. Kadangkala hati masih sering kali protes atau mengeluh akan keadaan yang ada. “Amal perbuatan itu sebagai kerangka yang tegak, sedang ruh (jiwa) nya adalah tempat terdapatnya rahasia ikhlas (ketulusan) dalam amal perbuatan” Tidak mudah menerapkan ilmu ikhlas, sedangkan kita sebagai muslim dituntun untuk itu “Tidaklah mereka diperintah kecuali agar berbuat ikhlas kepada Allah dalam menjalankan agama”. Sehebat apapun suatu amal bila tidak ikhlas, tidak ada apa-apanya dihadapan Allah SWT, sedang amal yang sederhana saja akan menjadi luar biasa dihadapan Allah SWT bila disertai dengan ikhlas.

Masih jelas terngiang kata Aa Gymnastiar terapkanlah 5 hal dalam hidupmu :

1. Hidupnya jarang sekali merasa kecewa, Orang yang ikhlas dia tidak akan pernah berubah sikapnya seandainya disaat dia berbuat sesuatu kebaikan ada yang memujinya, atau tidak ada yang memuji/menilainya bahkan dicacipun hatinya tetap tenang, karena ia yakin bahwa amalnya bukanlah untuk mendapatkan penilaian sesama yang selalu berubah tetapi dia bulatkan seutuhnya hanya ingin mendapatkan penilaian yang sempurna dari Allah SWT.

2.Tidak tergantung / berharap pada makhluk Sayyidina ’Ali pun pernah berkata, orang yang ikhlas itu jangankan untuk mendapatkan pujian, diberikan ucapan terima kasih pun dia sama sekali tidak akan pernah mengharapkannya, karena setiap kita beramal hakikatnya kita itu sedang berinteraksi dengan Allah, oleh karenanya harapan yang ada akan senantiasa tertuju kepada keridhaan Allah semata.

3. Tidak pernah membedakan antara amal besar dan amal kecil Diriwayatkan bahwa Imam Ghazali pernah bermimpi, dan dalam mimpinya beliau mendapatkan kabar bahwa amalan yang besar yang pernah beliau lakukan diantaranya adalah disaat beliau melihat ada seekor lalat yang masuk kedalam tempat tintanya, lalu beliau angkat lalat tersebut dengan hati-hati lalu dibersihkannya dan sampai akhirnya lalat itupun bisa kembali terbang dengan sehat. Maka sekecil apapun sebuah amal apabila kita kerjakan dengan sempurna dan benar-benar tiada harapan yang muncul pada selain Allah, maka akan menjadi amal yang sangat besar dihadapan Allah SWT.

4. Banyak Amal Kebaikan Yang Rahasia Mungkin ketika kita mengaji dilingkungan orang banyak maka kita akan mengaji dengan enaknya, lama dan penuh khidmat, ketika kita shalat berjamaah apalagi sebagai imam kita akan berusaha khusyu dan lama, tapi apakah hal tersebut akan kita lakukan dengan kadar yang sama disaat kita beramal sendirian ? apabila amal kita tetap sama bahkan cenderung lebih baik, lebih lama, lebih enak dan lebih khusyuk maka itu bisa diharapkan sebagai amalan yang ikhlas. Namun bila yang terjadi sebaliknya, ada kemungkinan amal kita belumlah ikhlas.

5. Tidak membedakan antara bendera, golongan, ras, atau organisasi Fitrah manusia adalah ingin mendapatkan pengakuan dan penilaian dari keberadaannya dan segala aktivitasnya, namun pengakuan dan penilaian makhluk, baik perorangan, organisasi atau instansi tempat kerja itu relatif dan akan senantiasa berubah, banyak orang yang pernah dianggap sebagai pahlawan namun seiring waktu berjalan adakalanya berubah menjadi sosok penjahat yang patut diwaspadai. Maka tiada penilaian dan pengakuan yang paling baik dan yang harus senantiasa kita usahakan adalah penilaian dan pengakuan dari Allah SWT.

Dalam menapaki kota nan riuh ini rupanya dibutuhkan keikhlasan yang luar biasa. Maaf  kalau masih ngeluh kemacetan, kerawanan kejahatan, kesenjangan sosial  atau  masih mengeluh udaramu yang kotor sungai sungaimu yang hitam legam  bahkan tiada kicau burung yang membangunkanku dipagi buta. Dan ternyata sampai hari inipun aku belum bisa ikhlas menjadi wargamu.

Selamat Ulang Tahun Jakarta 
Semoga Kemegahanmu Tidak Menyingkirkan Warga Miskinmu
Semoga Kemolekanmu Menambah Molek Akhlak Penghunimu


Diambil dari : http://img28.picoodle.com/img/img28/4/6/21/f_3308m_7c9c9f7.jpg

Incoming search terms for the article:

Sharing itu berguna:
  • Print
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Blogplay
  • email
  • LinkedIn
  • PDF
  • Ping.fm
  • Posterous
  • RSS
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Tumblr
Post this to Twitter

25 Comments

(Required)
(Required, will not be published)