Selamat Jalan Shuhada (part 2)

05/06/2009 by: ajengkol

Sore yang cerah aku pakai celana panjang item trus kaos panjang item dengan jilbab berbunga bunga ungu wah simple dan lebih leluasa gerak sambil aku mematut diri didepan cermin “Kok hatiku resah setiap kali mau ketemu atau ada telepon dari Akhee yah ” jerit hati ini lirih. Pintu kamar diketuk pembantu bilang udah dijemput Akhee. Akhirnya kita jalan wah kok dia hanya sendirian yah ? tanya hati kecilku dan tentu saja perasaan risi selama perjalanan mulai mengusikku dan jelas terbaca oleh dia “Ukhtee … afwan tadi niatnya mau mengajak Salma tapi mendadak dia ada urusan penting jadi yah udah,  aku nggak bisa batalin jemput ukhtee karena waktu kita tinggal 2 hari lagi kan” jawab dia ada rasa bersalah dimatanya. “It’s ok Akhee kita cari tempat umum yang ramai saja, iya  benar aku sudah harus kembali ke Bangkok selasa ini” jawabku nunduk

Masuklah kita ke Pizza Hut yang rupanya makanan favorit dia, Akhee mengambil duduk di pojokan dan memesan menu, Dia memesan Milk Shake Chocolate kesayangannya dan diapun memesan orange juice kesayanganku tanpa bertanya dulu dia udah mulai hafal seleraku rupanya” bathinku
“Ukhtee menyambung yang ana bahas di telepon,  aku minta anti  urusin website muslimah, tolong semua Fiqih tentang muslimah ukhtee tulis dan masukkan kedalam website itu” ucap dia sambil menulis beberapa buku yang harus mulai aku pelajari.
“Hmm oke Insya Allah ana akan kerjakan secepatnya,  biasanya awal semester belum terlalu sibuk” jawabku masih nunduk sambil kuaduk aduk orange juice. Pembicaraan sekitar rencana website dan aktivitas channel pun berlangsung sambil menikmati Pizza Hut tanpa terasa udah deket adzan maghrib
“Jadi selasa ukhtee berangkat yah” ujar dia melihat kearahku
“Iya Akhee” jawabku lirih
“Boleh ana memesan sesuatu” kata Akhee sambil menghela nafas panjang
“hhhm what’s that” jawabku penasaran
“Ukhtee kuliah selesainya kapan ? kalau nggak salah kemarin bilang 1.5 tahun lagi yah ? tanya Akhee
“Ya sih soalnya risetnya masih lom beres” jawabku sedih sambil membayangkan hari hariku di sana yang penuh dengan kerjaan dan riset di Laboratorium yang kadangkala hingga larut malam

“Boleh ana meminta ukhtee menunggu 3 tahun sampai ana selesai tugas”ucap dia lirih
“Maksud Akhee apa ” jawabku masih nggak tahu kemana arah pembicaraan
“Ana nggak bisa menjelaskan secara detail sekarang .. tapi ana mohon ukhtee mau menungguku 3 tahun lagi beri kesempatan ana untuk menemui orang tua anti” jawab dia tegas
“hhmm baiklah Akhee … lihat saja nanti”ucapku dengan jantung berdegup keras
“Yuk cabut kita musti shalat maghrib” dan kamipun keluar dari Pizza hut

Kesibukan dikampus kembali harus menguras segala tenaga dan pening dikepalaku, karena risetku yang belum juga selesai, tapi masih sedikit terhidup karena disela-sela kesibukanku aku masih bisa mengerjakan web site muslimah, melakukan aktivitas di channel dengan tausiyah dan masih bisa sering konsultasi dengan Akhee meski hanya via internet.  Wisudapun berlangsung dengan sangat meriah Alhamdulillah Ya Rabb akhirnya lulus juga master gue nggak sia sia mendapatkan nilai yang tinggi  pulanglah aku di Indonesia dengan hati yang bangga

Sesampai dirumah selain orangtuaku yang aku kabari  aku juga segera telepon Akhee hanya untuk menyampaikan aku udah lulus dan udah pulang karena selama 2 bulan terakhir aku nggak sempet lagi megang internet karena kepadatan acara dan persiapan pulang tapi apa yang kudapatkan “Ukhtee udah balik Indo yah” jawab Salma “Sal bisa ana bicara dengan Akhee ada hal yang mau ana sampaikan langsung”kata ku sambil malu
“Duh ukhtee, Akhee kan lagi ke Mekkah ada tugas dari Abah”jawab Salma
“Oh baiklah .. sampai kapan tuh .. kapan pulangnya”tanyaku
“Wah kayaknya lama deh 5 bulan disana”ujar Salma
Setelah menutup pembicaaan pikiranku melayang … wah Akhee pergi kok nggak meninggalkan pesan yah “ah mungkin perginya mendadak kali .. nggak boleh berburuk sangka” kata hati kecilku

Masuk kantor hari pertama langsung aku buka komputerku dan Email dari Akhee pun ada disana … wah bahagia rasanya. Akhee bilang akan ketemu orang tuaku dan ingin mengkhitbah setelah tugasnya selesai.

Alhamdulillah Ya Allah doaku ternyata Engkau kabulkan  Sujud syukurku karena doaku diijabah sambil menangis kulipat sajadahku

Menanti kepulangan Akhee rupanya merupakan penantian yang panjang.  Apakah ini juga yang dirasakan Akhee ketika menantiku selesai kuliah. Sambil mengerjakan paper untuk presentasi di sebuah seminar wah kubuat seindah mungkin di powerpointku,  sambil makan coklat 35 slidepun selesai kukerjakan. Pintu kamarku diketok pembantu yang mengatakan ada telepon  dan  akupun segera meraih gagang telepon berharap ayahanda yang meneleponku
“Salamu’alaikum” ucapku senang “Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh” ucap suara yang begitu sangat aku rindukan. Pyar rasanya kepalaku mendadak berputar putar eeh berbintang bintang
Akhee ?  Masya Allah  Selamat datang” jawabku seneng sekali
Faidzaa Faraqta Fanzab” Jawab dia
“What’s that mean ? malu sekali bahasa arabku nggak sebagus dia
“Selesai tugas menunggu tugas yang lain .. coba ukhte baca di Jus Amma” jawab dia
“hhm ok eeh gimana perjalanannya ? cerita dong ” ujarku bingung mau omong apa
“Ukhtee ana telepon ada perlu dengan ukhtee … besok jam 12 ba’da shalat dzuhur ana jemput, ada hal penting yang harus kita bahas dan itu tidak bisa via telepon apakah ukhtee keberatan” kata Akhee dengan tegas seolah hal penting yang penting yang akan di share denganku
“Insya Allah ana akan usahakan” jawabku pelan sambil mengucap salam ditutuplah pembicaraan via telepon itu

Siang itu aku kebetulan sekali memang nggak ada tugas jadi aku minta izin untuk meninggalkan kantor setelah shalat dzuhur dan Akhee menjemput ana beserta kakaknya dan kamipun bertiga menuju rumah dia di bilangan Rawamangun. Betapa kagetnya aku ketika diperkenalkan dengan keluarga besarnya, aku tidak menyangka sama sekali  sambutan keluarga itu begitu meneduhkan hati, sebuah keluarga sakinah itu tampak nyata terpancar dari setiap tutur kata mereka yang santun. Namun bagaikan disambar geledek inti pembicaraan siang itu dia akan bertugas ke Phillipina membantu pejuang Moro, membantu suplai makanan dan obat-obatan. Aku hanya duduk diam tanpa bisa berkata bahkan berfikir.
Ana tidak minta ridha dari antum semua, api ana hanya minta doa Isya Allah ana bisa segera pulang” ucap dia tegas kepada seluruh keluarga besarnya. Bagai Petir menggelegar di siang bolong pelan namun  airmata mengalir dipelupuk mataku tanpa terasa sesak didada ini rasanya nggak bisa aku tutupi.

Alhamdulillah kakak Akhee yang paling tua tahu isi hatiku diajaknya aku masuk kekamarnya dan pelan pelan diajaknya aku bicara “Jangan membuat langkah Fai surut dengan tidak ridhanya ukhtee” kata dia pelan namun tegas
“Iya mbakyu … mungkin ana hanya kaget saja mendengarkan rencana itu yang tanpa pernah dia bicarakan sebelumya”jawabku nggak enak,  seolah kok aku menghalangi padahal seluruh keluarganya sudah ikhlas. Kemudian kakaknya itu bercerita panjang lebar tentang Akhee dan masa kecilnya hehehe aku sedikit terhibur meski hati ini masih perih rasanya membayangkan jauh dari dia tanpa khabar yang jelas
Sore harinya setelah mengantar Ummi, aku di antar Akhee pulang ke Tebet. Dalam perjalanan kami berdua hanya terdiam membisu, entah apa yang berkecamuk diwajah teduh itu. Aku pun tidak berani mengusiknya dan  dalam lamunan perjalanan kami dikejutkan Adzan maghrib.
“ukhtee kita shalat di Masjid Sunda Kelapa dulu yah” kata dia dan aku jawab dengan menganggukkan kepala.  Seusai shalat kami melanjutkan perjalanan, tapi kok aku berasa lapar banget
Akhee aku laper, kita makan dulu yah” kataku  “Wah kok sama sih baru aja mau ngucap itu hehehe” kata dia sambil ketawa
Suasana canggung dan kaku  mulai melumer, setelah kita memesan sate, gule dan tongseng di restaurat Sate Pancoran, dia mulai menceritakan perjalanannya selama di Mekkah dan juga pertemuannya dengan banyak delegasi dari negara-negara lain. Mata itu berbinar-binar kalau sudah bercerita tentang aktivitasnya.

“Ukhtee,  sesuai pesan ana di email Insya Allah sepulang ana dari tugas ana langsung ke Solo untuk mengkhitbah ukhtee, akan tetapi apabila datang lelaki shaleh melamar ukhte dan ukhtee cocok silahkan” tatap mata dia tajam membuat aku malu dan menundukkan kepala  dan ternyata inilah pertemuan terakhirku dengan Akhee.

Hari-hari kulalui tanpa komunikasi dengan Akhee dan  hanya sesekali Ummi atau kakaknya telepon. Satu tahun  dua tahun dan tiga tahun tanpa khabar berita,  hingga suatu saat aku ketemu dengan seorang Akhee lain yang berniat mengkhitbah. Aku ragu ketika itu namun akhirnya shalat Istiqarah apakah jawabannya akankah aku menolak atau  aku menerima Akhee lain saat mengkhitbahku.

Akhee betapa hancur rasanya hati ini, tapi itulah ketentuan Allah. Akhirnya aku walimahan. Apakah kau disana tahu ?? Apakah kamu merasakan apa yang saat in aku rasakan ?? Apakah aku mengkhianatimu ?? semua berkecamuk dalam benakku tanpa jawaban

Setelah dua tahun menikah aku menerima khabar yang sungguh meluluh lantakkan jiwa dan hatiku.
“Ukhtee ada khabar tentang adikku dan ana harap ukhtee sabar menerimanya … Akhee telah syahid Insya Allah hari ini jenasahya dibawa pulang ke Indonesia” kata kakaknya menangis mengabarkan berita itu

Inna lillahi wa inna lillahi ‘rajiun” jawabku sambil tak kuasa menahan airmata ini. Haruskah aku menangis untukmu ? haruskah aku bersedih Akhee ?

Aku tahu rel kereta api itu tidak akan pernah bertemu pada satu titik dan hanya Syahid lah yang mampu menghentikan kereta  Jihad mu

Selamat jalan shuhada Selamat jalan kekasih Allah surga menantimu Selamat Jalan Kekasihku

Incoming search terms for the article:

Sharing itu berguna:
  • Print
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Blogplay
  • email
  • LinkedIn
  • PDF
  • Ping.fm
  • Posterous
  • RSS
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Tumblr
Post this to Twitter
Filed under: Tulisan
Tags: , , , ,

38 Comments

(Required)
(Required, will not be published)