Rindu Bunda

12/08/2009 by: ajengkol

Kesakitan yang kau rasakan karena gagal ginjal helaan nafas satu demi satu melemahkan tubuhmu. Andai diijinkan ingin kugantikan penderitaanmu mana kala sedikit demi sedikit oksigen itu berkurang .. berlalu .. dan menghilang. Kau pergi dengan senyum abadimu.

Oh Tuhan .. Ya Rabb yang maha agung
Belum sempat bibir ini mengucap terima kasih padamu Bunda tuk berjuta kali, belum juga bibir ini mengucapkan rasa cinta pada Bunda bermilyard kali

Ya Rabb
Dia adalah nafasku dia adalah hidupku … yang ikut tercabut manakala dia berlalu untuk selama lamannya. Bunda aku limbung melalui masa sulit itu dan aku tak tahu kepada siapa kala itu harus bersandar ?
Dengan mata nanar terpejam jiwaku mencoba melukiskan bayanganmu namun masih terasa samar. Desah napasku mencoba resapi hangatnya belai kasih sayangmu namun tak tergapai

Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu dtimang

Nada nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci
Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan slalu ada di dalam hatiku

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” ( QS.Luqman: 14)

Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah SAW.

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yg pertama kali harus kuhormati?”
Beliau menjawab, “Ummu”. (ibumu)
Lelaki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi, Rasul?”
Ummu”, Rasul berkata lagi.
“Lantas siapa lagi, Ya Rasul?”
Ummu”.
“Lalu siapa lagi, Rasul?’
Rasul menjawab’ “Ayahmu”.

“Anisykurli waliwaalidaika ilaiyal Mashir”

Kau hadir menggenggam tanganku erat hingga menusuk relung sanubariku. Kau jamah aku dengan cinta yang tulus selayaknya bunda mengelus rambutku dimasa kecil. Terima kasih emak (meski emak dari kekasih hatiku sudah aku anggap emakku sendiri) I love you emak and all of you


Incoming search terms for the article:

Sharing itu berguna:
  • Print
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Blogplay
  • email
  • LinkedIn
  • PDF
  • Ping.fm
  • Posterous
  • RSS
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Tumblr
Post this to Twitter
Filed under: Diary
Tags: , , ,

32 Comments

(Required)
(Required, will not be published)