Muslimah Kaffah

20/04/2009 by: ajengkol

Tepat pukul 08.15 sampailah aku di depan Ruang Rapat Senat Guru Besar, sambil deg-degan kubuka pintu ruagan yang sudah senyap karena rapat memang dimulai tepat pukul 08.00. Perjalanan Bekasi – Salemba memakan waktu 2 jam padahal kalau nggak macet hanya sekitar 1 jam. Rapat maraton berakhir hingga pukul 15.30, sambil membawa tumpukan berkas kususuri kampus menuju ruang kerjaku. Masih terngiang ucapan Prof. Untung,Kenapa matamu sembab, habis nangis ya ? ucapnya bijak sambil mengelus jilbabku, “Pintu ruang saya terbuka kalau kamu ada perlu atau mau curhat“, kata beliau dengan bijak. Kujawab “kurang tidur neh prof” jawabku sambil berlalu agar beliau tidak bisa membaca gundahnya hatiku.

Sore itu kutunggu jemputan sahabatku Asiyah setelah semalam janjian untuk hadir di Pengajian MQ di bilangan Masjid Al Ashar.

Jeng aku jadi mau pindah kerja karena aku butuh uang untuk pengobatan kanker ummi dan Alhamdulillah salarynya lumayan aku di angkat jadi PR hotel berbintang lima“, suara di seberang sana dengan antusiasnya.

Wah alhamdulillah ukhtee kalau emang itu memberikan masa depan yang menjanjikan” ujarku ikut bahagia manakala sahabatku juga bahagia

Cuma aku diharuskan membuka jilbabku selama jam kerja jeng, awalnya aku keberatan akan tetapi karena operasi dan pengobatan ummi aku harus terima konsekuensi itu ukhtee“, ucap suara terbata bata itu mengiris hatiku.

Jangan Ais please .. demi aku demi agamamu jangan copot JILBAB mu“, aku merintih memohon agar Ais tidak melakukan itu. Dia kekeh dengan pendiriannya dia tetap bertahan demi umminya yang membutuhkannya.

Adzan maghrib berkumandang kulepaskan jilbabku untuk mengambil air wudhu, pelan kuusap mukaku sambil memandang muka di kaca betapa sembab mata itu betapa terlukanya cekungan itu tanpa kusadari bulir bulir airmata menetes dari pelupuk. Kuambil sedikit sabun muka Oil of  Oley kubasuh airmata dan wajah yang bersimbah duka lalu menuju pancuran kuambil air wudhu ya Rabb kuatkan hatiku.

Ba’da shalat maghrib, ais pun datang setelah numpang shalat di tempatku, kami berdua menuju arah Blok M Sisingamangaraja. Di Masjid Al Ashar pengajian bulanan Management Qalbu diadakan, saya dan Asiyah memang sering datang kesana berdua dan selalu janjian untuk mengenakan abayah hitam dan jilbab putih. Kali ini, kami pun mengenakan kostum yang sama dan jilbab yang sama berjalan menapaki halaman Masjid Al AShar yang mulai ramai.

Memasuki masjid dengan ornamen yang biasa selalu mendesirkan hati kecilku memilih duduk di barisan akhwat kami pun melakukan shalat tahiyatul masjid. Pengajian di mulai ba’da shalat Isya berjamah dan berakhir pukul 22.00. Sebelum penutupan selalu di adakan muhasabah menghisap diri, aku tak kuasa menahan aliran airmata yang mulai membasahi jilbabku. Entah kenapa tangan itu tiba tiba menggenggamku . . Ais sahabatku terasa jauh dan menjauh.

Tiga bulan berlalu aku tak tahu khabar Ais karena kesibukan masing-masing kamipun jarang jalan bareng ataupun komunikasi. Setiap mengenang persahabatan kami rasa sedih merambat sanubariku, kemana ukhtee yang selalu memberiku semangat ? Kemana Ais yang selalu mencurahkan masalah hidupnya tanpa tutup tanpa sekat.

Siang itu sambil menikmati es buah kesukaanku ada sms masuk, Ais mengabarkan kalau umminya masuk Rumah Sakit Islam Cempaka Putih. Kuputuskan untuk menjenguk beliau hari sabtu karena hari Rabu aku sudah janji dengan salah seorang konsulen Bagian Anak untuk membahas sebuah paper. Namun kehendak Allah SWT berkata lain, ummi dipanggil menghadap Sang Khalik hari Jumat. Seharian aku menemani Ais melewati masa sulit itu, aku juga kehilangan ummi yang selama ini sudah aku anggap seperti bundaku sendiri.

Jeng maafkan aku, aku yang tak mau mendengarkan nasehatmu … aku menghindar dari kamu karena aku malu”, ucapnya malam hari sebelum aku pulang.

Ais kenapa berkata begitu ? Kenapa Ais menjauh dari aku” Pelukku tak bisa kutahan lagi dan kami pun menangis berdua.

Aku sudah berani menanggalkan JILBABku hanya demi kedudukan dan pekerjaan , aku buta nggak mau sedikitpun mengerti apa yang kau ucapkan apa yang kau marahkan padaku selama ini .. aku malu jeng” Ratap Ais memilukan hatiku.

“Mulai besok aku resign dari perkerjaanku”, kata Ais lirih

Kupandangi lama wajah sahabatku, “Alhamdulillah ya Rabb kau dengarkan pintaku kau beri Ais hidayah terima kasih ya Allah kau buka pintu hatinya

Selang satu bulan di sela sela ujian dan persiapan soal aku mendapat khabar yang cukup mengagetkanku “Jeng aku sekarang berada di Bandung, aku kerja di Daaruut Taahid

“Masya Allah terima kasih ya Rabb” kau telah kembalikan Aisku….

Hikmah selalu hadir tanpa mengenal tempat terima kasih ukhte Asiyah untuk teladan yang Insya Allah bermanfaat buat orang lain terutama buat saya pribadi.

Surat An-Nuur : 31 berbunyi : “Katakanlah kepada wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka (mertua) atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara-saudar mereka (kakak dan adiknya) atau putra-putra saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka (keponakan) atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.

Juga firman Allah dalam surat Al-Ahzab : 59 berbunyi : “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mumin : “Hendaklah mereka mengulurkann jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”

Incoming search terms for the article:

Sharing itu berguna:
  • Print
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Blogplay
  • email
  • LinkedIn
  • PDF
  • Ping.fm
  • Posterous
  • RSS
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Tumblr
Post this to Twitter

19 Comments

(Required)
(Required, will not be published)