Mengembalikan Jati Diri Bangsa

13/08/2009 by: ajengkol

Keputusan Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi tentang paradigma baru pendidikan kedokteran di Indonesia, yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi yang tertuang dalam SK No. 138/D/T/2004 membuat penyelenggara pendidikan kedokteran di Indonesia ‘sibuk’ mempersiapkan implementasi kurikulum yang lebih menekankan kompetensi dalam menghasilkan output di bidang ahli medis.

Dulu kalau kita kuliah biasanya dilakukan dalam mimbar besar atau bisa dikatakan sebagai Teacher center. Paradigma ini diubah menjadi Student center dimana dosen tidak lagi sebagai satu satunya sumber ilmu. Bagaimana konsekuensi atas perubahan yang terjadi diatas ? Makin merosot nya kwalitas pendidikan di Indonesia menenggarai untuk mengevaluasi apakah sistem pendidikan itu sudah sesuai ? Untuk Menggembalikan Jati Diri Bangsa maka perlu berbenah dalam hal sistem pendidikan. Evaluasi terhadap kurikulum yang sudah lalu diharapkan mampu meningkatkan secara signifikan terhadap kwalitas lulusan Pendidikan Tinggi.

Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dilaksanakan dengan menggunakan metode SPICES, yaitu Student Centre, Problem Based Learning, Integrated, Community Based, Early Clinical Exposure, dan Structured. Dengan kurikulum ini, mahasiswa dituntut untuk lebih aktif belajar, mempelajari ilmu kedokteran berbasiskan problem kesehatan yang ada, dan metode yang terintegrasi antara satu mata kuliah dan mata kuliah lain, yang pada kurikulum sebelumnya dilakukan secara terpisah.

Mahasiswa juga diprioritaskan mempelajari penyakit-penyakit yang ada di masyarakat secara lebih dalam dan secara dini dikenalkan dengan suasana klinik. Para calon ahli medis diharapkan dapat lebih berkomunikasi dengan pasien dan mengembangkan empati. Mahasiswa harus mulai mampu melakukan penelitian dalam rangka menghidupkan Research University yang tentu saja akan mampu Menggembalikan Jati Diri Bangsa.

Namun tentu saja hal ini tidak mudah karena pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi dapat menelan investasi awal yang tinggi. Implementasi KBK membawa berbagai konsekuensi, yang salah satunya adalah soal biaya. Mahasiswa yang biasa hanya membutuhkan satu mimbar kuliah dengan sistem ini akan dibagi dalam kelompok-kelompok diskusi yang terdiri dari 8 hingga 10 orang mahasiswa tiap kelomoknya.

Dekan FKUI pada waktu itu program ini mulai dicanangkan mengakui berbagai persiapan untuk pelaksanaan KBK membutuhkan biaya besar. Persiapan dan pendanaan, menurutnya satu kendala bagi penyelenggara pendidikan kedokteran dalam menjalankan KBK. Modul dan materi ajar mengalami perubahan, dan hal tersebut bukanlah pekerjaan mudah. Dari Modul awal Neurosains, Molekuler Biology hingga ke Modul Reproduksi, Gastrointestinal maupun IKK semua memerlukan pemikiran akan perubahan materi yang belum tentu mengena.

Sistem yang menekankan kemampuan daya jelajah mahasiswa untuk mencari literatur ilmu kedokteran lewat internet, textbook, dan jurnal membuat diperlukan saraba pendukung yang maksimal.

Dengan terlaksananya kurikulum ini, tugas dosen dan staf pengajar, akan menjadi lebih berat. Ilmu kedokteran adalah ilmu yang memiliki kecepatan sangat tinggi. Semoga perubahan kurikulum ini akan memberikan dampak yang positif terhadap kwalitas lulusan Perguruan Tinggi sehingga kitapun mampu Menggembalikan Jati Diri Bangsa Indonesia dimata dunia.

This post dedicated to my sweetheartAnyone can carry his burden, however hard, until nightfall.  Anyone can do his work, however hard, for one day.  Anyone can live sweetly, patiently, lovingly, purely, till the sun goes down.  And this is all life really means. The most important thing those I wanna say it you meant a lot to me my blue elephant.

Incoming search terms for the article:

Sharing itu berguna:
  • Print
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Blogplay
  • email
  • LinkedIn
  • PDF
  • Ping.fm
  • Posterous
  • RSS
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Tumblr
Post this to Twitter

20 Comments

(Required)
(Required, will not be published)