Keputihan Jangan Anggap Remeh

17/04/2009 by: ajengkol

KEPUTIHAN merupakan suatu hal yang normal bagi kaum wanita. Namun, hal ini bisa berubah menjadi penyakit berbahaya akibat terinfeksi oleh jamur atau virus, dan tak kalah pentingnya adalah penyebab keputihan lain yaitu bakteri atau parasit. Keputihan, dalam ilmu kedokteran, dikenal dengan leukorrhe atau flour albus yang merupakan tanda adanya kelainan di dalam saluran dan organ reproduksi.

Secara normal, wanita akan mengeluarkan cairan dan cairan itu biasanya bening, nggak berbau, dan nggak sakit,” Terutama apabila mendekati masa menstruasi maka keputihan ini akan semakin berasa. Biasanya, wanita yang mengalami keputihan akan merasa gatal, nyeri, rasa terbakar di bibir kemaluan, sering disertai bau busuk, dan menimbulkan rasa nyeri sewaktu berkemih atau bersenggama.

Warna cairan keputihan bervariasi. Ada yang berwarna putih, kekuning-kuningan, dan juga abu-abu. Cairan keputihan yang keluar dari saluran reproduksi biasanya kental dan seperti susu. Baunya juga beragam. Ada yang tanpa bau, berbau telur busuk, bahkan berbau anyir seperti ikan mentah.

Salah satu penyebab keputihan yaitu Trichomonas vaginalis yang merupakan protozoa patogen yang umumnya ditemukan pada saluran genitourinaria manusia. Parasit Trichomonas vaginalis adalah keputihan yang ditularkan lewat hubungan seks, sehingga termasuk salah satu dalam penyakit menular seksual (PMS). Keputihan ini juga dapat menular melalui perlengkapan mandi dan bibir kloset yang telah terkontaminasi. Cairan keputihan sangat kental, berbuih, berwarna kuning atau kehijauan dengan bau anyir. Keputihan yang diakibatkan oleh parasit ini tidak menyebabkan gatal, tapi nyeri bila liang vagina ditekan.

trichomonasvaginalis

trichomonasvaginalis

Adanya dua tubuh vagina yang encer berwarna kuning kehijauan dan purulen merupakan gambaran yang karak teristik untuk vaginitis trichomonal. Bau vagina yang abnormal, pruritus, vulva yang kemerahan dan membengkak, petechiae pungtata pada serviks (strawberry cervix).

Lebih dari setengah wanita yang terinfeksi mempunyai gejala klinis difus, ekskoriasi pada bagian dalam paha. Penderita mungkin juga mengeluh disparenia dan pada waktu pemasangan spekulum terasa sakit serta edema vestibulum dan labia minor mungkin ditemukan Uretritis. Kira-kira setengah kasus vaginitis trikomonalis juga mengenai uretra. Keadaan ini mungkin asimtomatik atau menyebabkan disuria

Prevalensi Trichomonas vaginalis sebesar 5-10% pada populasi umum wanita, 50-60% pada wanita penghuni penjara dan pekerja seks komersial (PSK) Pada wanita yang mempunyai keluhan pada vagina, prevalensi Trichomonas vaginalis antara 18-50%; dan pada 30-50% wanita dengan gonore juga ditemukan infeksi Trichomonas vaginalis. Prevalensi infeksi Trichomonas vaginalis pada pria yang mengunjungi klinik penyakit menular seksual sebanyak 6%. Infeksi Trichomonas vaginalis pada pria selalu dihubungkan dengan uretritis non gonore, dengan prevalensi antara 1-68%

Pengobatan trikomoniasis vagina tidaklah semudah hubungan langsung antara kerentanan organisme terhadap metronidazol dengan dosis obat, tetapi mungkin tergantung pada interaksi kompleks beberapa faktor yang meliputi: kerentanan obat terhadap trichomonas, kadar obat setempat, potensial redoks intravagina (yang mungkin mengatur jumlah obat yang diambil oleh parasit) dan mikroflora vagina yang menyertainya (yang mungkin mengurangi jumlah obat setempat). Metronidazol masih tetapi sebagai obat pilihan untuk trikomoniasis pada wanita dan pria. Tidak ada pengobatan alternatif yang efektif selain metronidazol.

nb: gambar hasil dari gugling sebagai penambah wacana

Incoming search terms for the article:

Sharing itu berguna:
  • Print
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Blogplay
  • email
  • LinkedIn
  • PDF
  • Ping.fm
  • Posterous
  • RSS
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Tumblr
Post this to Twitter

29 Comments

(Required)
(Required, will not be published)